26 Agustus 2018 07:51 wib

Medan - Dosen Prodi Ilmu Komunikasi (IKOM)Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Fakhrur Rozi, berpartisipasi dalam Konferensi Internasional Relasi Indonesia - Malaysia (PAHMI) ke 12 yang digelar di University of Malaya, Kuala Lumpur, pada 1 Agustus 2018 - 3 Agustus 2018.

Dalam konferensi ilmiah tersebut, Fakhrur Rozi, memaparkan artikelnya tentang eksisteni diaspora Mandailing di Malaysia, serta kaitannya dengan relasi budaya Indonesia - Malaysia. "Pada dasarnya, keberadaan etnis Mandailing di Malaysia adalah potensi yang baik untuk Sumatera Utara, Indonesia. Karena mereka ada salah satu kelompok diaspora Indonesia di Malaysia. Sayangnya, ini belum dimaksimalkan keberadaannya," kata Rozi.

Insiden dugaan klaim seni Tortor dan Gordang Sambilan oleh Malaysia beberapa tahun lalu, menjadi pemicu makalah ini disampaikan di forum paralel PAHMI 12. Muncul sentimen anggapan soal Malaysia yang mengambil/mencuri kebudayaan Mandailing yang notabene suku asli dari Indonesia. Padahal, etnis Mandailing juga banyak di Malaysia. "Ini harus disadari semua pihak. Bahwa warga etnis Mandailing wajib melestarikan kebudayaannya di mana pun dia berada," katanya.

Dia berharap ke depan, pemerintah Indonesia khususnya, bisa membangun komunikasi dengan diaspora Indonesia yang ada di Malaysia. Diaspora Indonesia di Malaysia seperti masyarakat etnis Mandailing memiliki peran ekonomi dan politik yang bisa berimplikasi pada penguatan relasi Indonesia - Malaysia. "Di kabinet pemerintahan Malaysia saat ini ada diaspora Mandailing, Dato' Saifuddin Nasution Ismail. Ini adalah bukti eksitensi masyarakat Mandailing di Malaysia," ujarnya.

Meski begitu, Rozi berpendapat, relasi Indonesia - Malaysia ini akan terus berkembang setiap masa. Dinamikanya pun bakal naik - turun, dalam berbagai isu yang melibatkan kedua negara. "Meski serumpun, di tataran masyarakat masih ada anggapan Indonesia - Malaysia ini serupa, tapi tak sama. Inilah diskursus serumpun itu," katanya.

Selain Fakhrur Rozi, turut memaparkan karya ilmiahnya di Paralel 4D antara lain, Arthuur Jeverson Maya, Riskey Oktavian (Universitas Kristen Indonesia, Jakarta),  Syed  Abdul Razak Bin Sayed Mahadi (University of Malaya), Lindawati dan Zaiyardam (Universitas Andalas, Sumatera Barat), Indah Sri Pinasti, Amika Wardana, Puji Lestari (Universitas Negeri Yogyakarta), dan Irsyad Leihitu, R Cecep Eka Permana (Universitas Indonesia).