Medan – Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian penelitian Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Tahun 2026 dengan judul “Analisis Komunikasi Digital dengan Pendekatan ABCD dalam Penguatan Moderasi Beragama Tokoh Agama di Kabupaten Karo dan Langkat.”


Kegiatan yang diketuai oleh Dr. Indira Fatra Deni P., M.A. tersebut merupakan bagian dari Program Penelitian BOPTN 2026 UIN Sumatera Utara pada Kluster Bantuan Penelitian Dasar Pembinaan/Kapasitas (PT). Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan komunikasi digital melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di kalangan tokoh agama.
FGD dilaksanakan di dua kabupaten yang menjadi lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Langkat pada 14 Juli 2026 dan Kabupaten Karo pada 18 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan para tokoh agama, akademisi, serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Di Kabupaten Langkat, FGD menghadirkan Ketua FKUB Kabupaten Langkat, H. Muhammad Ishak, S.Ag., M.Pd., yang menyampaikan pentingnya penguatan komunikasi digital sebagai media penyebaran nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi harus dimanfaatkan secara bijak untuk memperkuat semangat toleransi, kerukunan, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Sementara itu, FGD di Kabupaten Karo pada 18 Juli 2026 menghadirkan Ketua FKUB Kabupaten Karo, Drs. Aswan Sembiring, M.Si., yang menekankan bahwa tokoh agama memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi yang inklusif, baik melalui interaksi langsung maupun platform digital. Ia menilai pendekatan berbasis potensi masyarakat atau Asset Based Community Development (ABCD) menjadi salah satu strategi yang relevan dalam memperkuat kolaborasi lintas agama dan menjaga keharmonisan sosial.
Ketua Peneliti, Dr. Indira Fatra Deni P., M.A., menjelaskan bahwa penelitian ini berupaya memetakan pola komunikasi digital yang digunakan para tokoh agama sekaligus mengidentifikasi aset-aset sosial yang dimiliki masyarakat untuk mendukung penguatan moderasi beragama. Melalui pendekatan ABCD, penelitian ini tidak hanya melihat berbagai tantangan yang dihadapi, tetapi juga menggali potensi dan kekuatan komunitas sebagai modal utama dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis.
Diskusi berlangsung secara interaktif dengan membahas berbagai isu, mulai dari pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi moderasi beragama, tantangan penyebaran informasi di ruang digital, hingga strategi kolaborasi antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan ruang digital yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Hasil FGD di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo akan menjadi bagian penting dalam penyusunan analisis penelitian sekaligus rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi akademik maupun praktis dalam memperkuat implementasi moderasi beragama melalui pemanfaatan komunikasi digital yang adaptif, partisipatif, dan berbasis potensi masyarakat.



